Senin, 29 April 2013

Puisi Eto Kwuta/Ada dalam Kata





                       Ada dalam kata
-Untuk Hanson Hayon

Bermula dari kata Serupa kata engkau
Lahir dari huruf ibu 
Membidikan diam terurai merdu kata-kata

Ku sebut engkau baris dan rima puisi
Berjejal-jejal intuisi
Lalu hati membakar pesi puisi:
Engkau ada, sungguh!

Kampus Ledalero, 26 April 2013

Minggu, 28 April 2013

Puisi Eto Kwuta/Sahabat (dari teman lama)






Sahabat
(dari teman lama)
Ku tulis cerita ini, kala jejakmu masih ada
di sini
Beginilah rasa yang
kujalani:
              “bagai air di daun talas aku
          sejalan”
Apa kau ingat aku seperti pengemis paling laku
Laku? Ya, aku selaku diriku
yang mau segera kau melecut
Melecut, agar aku tak dikata bagai pembuntut

          Apa kau masih merindu prahara?
          Terhempas waktu yang tiada letih berbincang tentang
          Cinta yang rapuh
          Atau, rindumu masih bicara?
Sudahlah, aku bukanlah neraka yang menunggumu
Bukan pula surga, tapi aku merasa kita kalah
Tak ada bahagia yang selamanya kita rangkai dalam

cinta
          Pahit, terasa pahit!!
          Biarlah aku pergi membawa
          Sepotong hati
          Entah. Barangkali sampai ke musim yang
          payah
          dan, semuanya tak ‘kan pernah kembali
Biarlah kita bersandar pada angin.
                                       
St. Mikael, 06 may 2012

Puisi Eto Kwuta/Tentang Pemimpi





Tentang Pemimpi (1)
 
Di tebing waktu
Membuntut musim yang terus meruncing
Sisakan keping-keping rindu
Patah tumbuh hilang berganti
Mendiami hati seorang perantau

Akankah mimpi dia jadi setitik tanur
Menyala pada tapal cita yang semarak
Atau ‘kan berubah jadi kuntum
Menghiasi pagi hari di sini

Barangkali dia terselip
Terpekur dan tertambat pada aura zaman yang terus memanggil
Hingga rasa kecut melekat

Tentang Pemimpi (2)

Galau membingkai setiap musimmu
Serupa kabut hitam memburu langkahmu
“Apa benar mimpi itu seperti kabut hitam menghantui hayalmu?”

Masih ada rembulan mengintip di balik awan itu
Dan selaksa bintang menyemaraki duniamu
Apa kau takut memetiknya?
Datanglah malam ini
Pasti habis gelap ini terbitlah terang
Barangkali kau memetik matahari esoknya

                                                            St. Mikael, 07 mei 2012

Puisi Eto Kwuta/Mimpi







MIMPI

Aku mengalami indahnya sebuah mimpi

                                           Malam yang sepih, malam yang panjang                                          
Aku melihatnya datang dari suatu
dunia yang tak malang
Ada cahaya  menyilau terang-benderang
Awalnya putih-putih dan  perlahan jadi hitam-putih
            Ini aku datang berjumpa
            Jangan pergi sebelum bersua
Haaa, mimpi?
Surganya para pemimpi
Selalu berkisah, indah.

              St. Michael, 27-04-2012

Puisi Eto Kwuta/Golgota



 Golgota I

Batu-batu di bukit itu
Menggerutu perih-sedih penuh duka
Tangisi tubuh letih terpecah di ranjang maut:
Diam-seram

Kau ukir pergi-Nya dengan liar
Memaggut darah bersimbah darah dan air
Yang tertumpah bersama tetes waktu
Indah mengalir lembut di kepalaku.

Golgota II

Aku menjalang
Resah
Melambung padamu. Bagai ranting zaitun terliuk-liuk
Dalam diam
Terpecah, lalu patah

Oh Golgota! Golgota! Golgota!

Dukaku seribu tahun menombakmu
Menancap dinding batumu, memburu
Retak-retak bisumu, memagut separuh
wajahmu, melahap karya
cinta dan dengki.

Aku membeku
Bagai bungkahan es
Meleleh padamu. Bagai rintik-rintik hujan
Tumpah ke bumi
Mengecup diam bebatuan
Seperti air mukamu

Golgota! Oh Golgota! Golgota!

Adakah yang seperti Dia?
Memilih terpaku di puncakmu?
Di puncakmu
Di puncakmu

Oh Golgota!

Unit Arnoldus, 2 Maret 2013.