Selasa, 26 Mei 2015

Potret Buram Pemimpin Lembata



Kisruh masalah pasar di kota Lewoleba, Kabupaten Lembata belum menggapai solusi. Flores Pos (FP), Selasa 21 April 2015 menurunkan tiga berita dari Lembata dengan judul masing-masing: Pedagang Duduki Rujab Bupati Lembata, Pedagang Pada Tolak Surat Pernyataan, dan DPRD Desak Pemerintah Tutup TPI.

Alkisah, Polisi Pamong Praja menggusur tempat jualan para pedagang Pasar Pada di Taman Kota. Hal ini dilakukan sebagai protes terhadap Bupati Yance Sunur yang memperlakukan TPI sebagai pasar harian. Namun, hal yang sangat disayangkan ialah aksi Polisi Pamong Praja (Pol PP) merugikan para pedagang. Lihat saja ibu-ibu yang menangis dan mengeluh karena lapak-lapak dan barang-barang mereka dibongkar oleh Pol PP. Tidak heran apabila para pedagang marah dan mengambil sikap menduduki Rujab Bupati Lembata.

Oleh karena kemarahan yang meledak-ledak, para pedagang menolak menandatangani surat pernyataan yang hendak dibuat dan ditandatangani di hadapan bupati Yance Sunur. Pilihan terakhir, para pedagang berdialog dengan DPRD Lembata.

Selanjutnya, sikap yang diambil DPRD Lembata ialah mendesak pemerintah untuk menutup Pasar TPI karena dalam Perda Nomor 12 tahun 2003 dinyatakan hanya ada dua pasar di kota Lewoleba, yakni Pasar Pada dan Pasar Lamahora. Jelas, Pasar TPI tidak seharusnya ada, tetapi apa alasan mendasar Pol PP menggusur Pasar Pada? Apakah tindakan yang diambil benar-benar sebagai protes terhadap bupati Yance Sunur? Belum tentu. Maka, mari kita lihat lebih jauh persoalan ini.

Dalam ritus politik, ada banyak cara yang diambil oleh pemimpin untuk mencapai hasrat yang dimimpikannya. Entah itu cara yang halal atau sebaliknya. Namun, sebenarnya inti persoalan ini berkaitan dengan potret buram sosok pemimpin di Lembata. Pemimpin yang dipilih rakyat dinilai aneh (FP 18/4). Oleh karena keanehan pemimpin, maka para pedagang sempat melontarkan teriakan, hujatan, bahkan ada makian yang dialamatkan kepada bupati. Menarik untuk dicermati di sini, di manakah posisi pemimpin?

Lari dari Tanggung Jawab
Sejauh ini Lembata dihadapkan dengan situasi yang sangat sulit. Ini situasi krisis kepemimpinan dan pemimpin yang sudah terjadi begitu lama. Situasi yang tampak ialah bahwa pemimpin justru lari dari tanggung jawab. Tentu saja, ada fenomena kegagalan pemimpin dan perihal memimpin yang berujung pada sikap masa bodoh dan acuh tak acuh. Maka, kriteria pemimpin model ini tidak layak dipakai, bahkan dipertanyakan oleh rakyat kecil.

Seorang bupati misalnya, ia bertanggung jawab penuh untuk menentukan kebijakan publik dan keputusan yang diambil bukan untuk menyengsarakan rakyat. Aksi Pol PP yang diakui sebagai protes terhadap bupati tidak lain merupakan aksi dari seorang atasan. Apakah itu berasal dari bupati? Belum tentu benar dan belum tentu salah. Namun, defacto bupati sebagai pemimpin yang dipilih rakyat sudah mempermainkan amanat rakyat yang diembankan kepadanya. Bupati lari dari tanggung jawab dan tidak mau membangun dialog (antidialog).

Di sisi lain, seorang bupati misalnya, ia mesti menanggung suara rakyat serentak menjawabi persoalan pelik yang sedang terjadi. Bupati bukan diam di dalam Rujab, melainkan tampil di depan untuk membela hak rakyat. Dalam kenyataan tidak terjadi demikian. Maka, tulisan ini hendak mengkaji sejauh mana potret pemimpin yang dimimpikan rakyat Lembata saat ini.  Apakah untung atau rugi?

Realitas Untung dan Rugi
Apa akibat dari pemimpin yang tidak becus? Hemat saya, ada dua dinamika kepemimpinan yang bisa dipetik bersama saat ini. Pertama, dalam ruang kepemimpinan tertentu, prioritas pemimpin adalah menjaga kewibawaan dan harga dirinya. Cara terbaik ialah lari dari tanggung jawab dan melindungi diri dengan menjaga mentalitas kecut. Bahkan, persoalan publik dilihat tidak memberi efek keuntungan bagi diri sendiri.
Kedua, serangan dari para pedagang dilihat sebagai perilaku politik yang biasa-biasa saja. Jadi, untuk apa digubris, tidak ada keuntungan yang diperoleh, apalagi rakyat tidak tahu berpolitik. Jika demikian, ini tidak dibenarkan.
Sangat jelas terbaca kalau ada dinamika untung dan rugi. Saat rakyat angkat bicara, pemimpin diam. Saat pemimpin bicara, rakyat diam. Dalam kenyataan, pemimpin tidak bicara. Jelas, rakyat merasa dirugikan, bahkan mungkin merasa sangat bersalah karena sudah memilih pemimpin dengan mentalitas yang demikian. Pada tataran ini, potret pemimpin yang dimimpikan rakyat Lembata tidak ada. Dengan kata lain, Lembata sedang mengalami ketiadaan pemimpin.
Lalu, rakyat Lembata memimpikan pemimpin seperti apa pada saat ini. Pertama, pemimpin yang buka mulut dan mau berdialog. Kisruh masalah pasar ini dapat diselesaikan kalau pemimpin (baca: bupati) hadir dalam undangan rapat kerja dengan DPRD Lembata. Rapat kerja bertujuan untuk membicarakan langkah-langkah perbaikan atau pencarian solusi yang mengarah kepada kebaikan bersama. Apabila bupati selaku atasan tidak mengambil bagian dalam rapat kerja, maka persoalan ini tidak akan diselesaikan secara baik.
Kedua, pemimpin yang mewakili rakyat dan setia menemani rakyat. Dalam hal ini, DPRD Lembata mesti berusaha keras untuk mendesak pemerintah. Tujuannya ialah untuk menegakkan Perda Nomor 12 tahun 2003 mengenai pasar Pada dan Pasar Lamahora. Konsekuensinya ialah bahwa Pasar TPI ditutup karena tidak termasuk dalam Perda bersangkutan sehingga tidak ada alasan lagi untuk memberlakukan Pasar TPI sebagai pasar harian.
Ketiga, pemimpin yang konsisten dengan kesepakatan bersama. Perda Nomor 12 tahun 2013 bukan lahir dari keputusan personal seorang pemimpin. Perda diputuskan oleh karena kebutuhan masyarakat. Hal yang tidak benar ialah apabila keputusan itu berada di luar kebutuhan dan kemampuan masyarakat. Para pedagang misalnya, merasa untung dengan diberlakukan Pasar Pada dan Pasar Lamahora. Tentu saja, usaha yang menciptakan masalah dan melampau kemampuan rakyat bukanlah solusi terbaik. Maka, pemimpin dituntut lebih bijaksana lagi dalam mengambil keputusan dan konsisten dengan kesepakatan yang sudah ada.
Ketiga hal ini menjadi kunci untuk mengatasi kisruh masalah pasar saat ini. Jika ini dijalankan secara baik, maka pemimpin tidak diledek oleh rakyatnya. Tidak ada umpatan, hujatan, teriakan, bahkan makian yang keluar dari mulut rakyat yang ditujukan kepada pemimpin.
Walhasil, potret pemimpin Lembata saat ini masih tampak samar-samar dan rakyat Lembata sedang menunggu jawab(an) dari pemimpin. Tujuannya ialah untuk memulihkan situasi sulit (untung dan rugi) yang sedang terjadi saat ini. Untuk itu, cara terbaik untuk menyelesaikan kisruh masalah pasar ialah dengan membangun dialog. Dialog yang tertib dan dialog yang hidup dalam diri pemimpin dan rakyatnya.*












Tidak ada komentar:

Posting Komentar