Minggu, 28 April 2013

Puisi Eto Kwuta/Lewotobi


 
Lewotobi*

(Kepada mereka di bawah kakinya)

Itu bebatuan kering  
Mengering, sendiri berdiri
Ya...sendiri
Menunggu kau menggusurnya
Dengan imanmu sebesar satu biji sesawi

NitaPleat, awal Oktober ‘12

*Lewotobi: Gunung kembar yang dikenal dengan nama dalam bahasa daerah Lamaholot, Ile Lake dan Ile Wae (Gunung Lelaki dan Perempuan). Ia berada di Kabupaten Flores Timur-Larantuka, tepatnya di wilayah Boru, Hokeng, NTT dan sekitarnya.

Puisi Eto Kwuta/Doa






Doa

Doa
Itu perjumpaan  tanpa lupa

“Kenapa kita menjangkau-Nya serupa dupa?”

Kita menangkap rupa
Beroleh sehasta hendak sedepa
:Membohongi siapa?

Nita Pleat, 8 Oktober 2012

Puisi-Puisi Eto Kwuta: KIRIM KARYA PUISI

Puisi Eto Kwuta/Di Biara





Di Biara
Di biara,
Tersulam 
 Benih-benih sedap malam
Mati  lalu hidup
Di mulut zaman
:Kita

Nita Pleat, 8 Oktober 2012

Puisi Eto Kwuta/ Hujan



Hujan

sengaja engkau mengecup basah rerumptuan
meleleh di ujung mata menawan, dari awan yang perawan
turun ke bumi, memeluk hitam-kelam tanah lalu terdiam
di ujung waktu. kau terus merayu waktu dengan merinai
indah di batas senja, meliuki daun-daun menari ria
pada tetes-tetes bisu yang tercurah dari ketidakalpaanMu
yang dalam bersama adaMu di bola mataku.

St. Arnoldus Nitapleat, 2013.

Sabtu, 27 April 2013

Puisi Eto Kwuta/Kampung Sendiri



Kampung Sendiri

Maya,

Kampung sepi itu

Sejauh ini ia berterus terang:

Merindumu



Itu kampung

Kampung rindu

Menarikmu merindu ladang

Melumat bukit lalu gunung-gemunung



Kampung itu rindu

Membilang kita mesti kembali

Merumput manisnya burung-burung berlagu
                                                                                                           Menghayat kicau suara para kekasih



Kampung itu kekasih penuh kasih

Mencintaimu indah

Seindah kita terus berladang pada tanah

Tertumpah darah bukan berarti kalah



Kampung adalah keindahan

Semakin jauh engkau memburu mimpi

Rindu selalu abadi di hati

Memanggilmu kembali koyakan tanah bermandi darah



Maya,

Kampung kita sendiri

Kembalilah menanam sendiri kakimu tiada berlari.



Untukmu yang mengajarkan bahwa kampung sendiri itu penuh susu dan madu.



Nita Pleat, 22 April 2013.

September dan Kitab Suci

Agustus sudah pergi. September datang seperti sedang berlari. Angin kencang tak digubrisnya. Dingin kota Ende tak berarti di dalam tubuhnya....