Sabtu, 15 Maret 2014

Dari Biara Menengok Keluar

Sastra

Dari Biara Menengok Keluar
(Apresiasi atas Puisi Erens Djato, SVD dalam Pujangga Sandal Jepit)

  
Menulis puisi atau sajak bagi seorang penyair itu membutuhkan sebuah permenungan. Baik itu penyair atau penyuka puisi mengakui bahwa sebuah puisi atau sajak yang dihasilkan bukan dari sesuatu yang kosong. Saya sependapat dengan Hengky Ola Sura yang menulis bahwa si penyair atau penyuka puisi bukan membuat sesuatu dari yang tiada (PK, 5/5/2013). Dengan kemampuan yang dimiliki seorang penyair mampu menghasilkan suatu puisi atau sajak yang berbobot. Kalau begitu, saya ingin menyelisik lebih jauh satu judul puisi hasil racikan seorang rekan dan saudara serumah saya, Erens Djato (ED).
Puisinya dengan judul “Biara 01” termuat dalam Pujangga Sandal Jepit edisi 26/Thn-V1/14 Sept-28 Sept. ’13 pada hlm 2. Puisi ini membuat saya tergerak untuk mengomentari lebih jauh apa maksud dan isinya. Ketika membaca puisi ini, saya menimbang-nimbang apa sebenarnya yang ED ingin sampaikan dalam puisi atau sajaknya. Saya ingin membagikan sedikit mengenai “Pujangga Sandal Jepit”, sebuah Komunitas Sastra yang diselenggarakan oleh para frater calon imam dan misionaris SVD dari unit St. Arnoldus Yansen, Nita Pleat-Ledalero.

Pujangga Sandal Jepit

Kita publik NTT patut bersyukur atas lahirnya komunitas-komunitas sastra yang semakin mendominasi surat kabar akhir-akhir ini. Salah satu dari sekian banyak komunitas sastra yang ada ialah Pujangga Sandal Jepit. Didirikan sejak tahun 2009 oleh para frater yang merasa penting kalau sastra itu dihidupi dari waktu ke waktu. Dengan satu semboyan unik “suara kami sederhana saja”. Sandal Jepit sudah jauh berkelana dan mengisi ruang-ruang hati pembaca. Menjadi kenyataan bahwa Pujangga Sandal Jepit selalu hidup dengan puisi-puisi hasil racikan para frater calon imam dan misionaris SVD.
Sepanjang perjalanan komunitas sastra yang satu ini, sudah banyak puisi-puisi hasil racikan para frater yang dimuat dalam lembaran sederhana. Hanya selembar kertas A4. Namun, di dalamnya tertera puisi-puisi yang hidup, kaya makna, dan sangat inspiratif. Tidak kalah saing dengan komunitas sastra lain, Pujangga Sandal Jepit juga telah menyentuh hati pembaca di NTT, karena sudah banyak puisi-puisi sudah menembus Harian lokal seperti Pos Kupang dan Flores Pos.
Hemat saya, begitu kreatif. Kalau dihitung-hitung sampai saat ini, Pujangga Sandal Jepit diperkirakan sudah memuat ratusan puisi-puisi kreatif hasil racikan para frater penghuni Wisma St. Arnoldus Yansen-Ledalero. Sudah pasti bahwa, puisi atau sajak yang dimuat itu bukan lahir dari sesuatu yang kosong. Selalu ada sesuatunya. Dan Pujangga Sandal Jepit edisi 26/Thn-V1/14 Sept-28 Sept. ’13 pada hlm 2 pun memuat satu sajak racikan ED dengan judul “Biara 01”. Ada beberapa puisi atau sajak yang sama menariknya, tetapi saya memilih untuk mengomentari puisi ED.  

Puisi yang “Membongkar”

‘Biara 01” menjadi puisi yang sederhana, tetapi menarik. ED mengawali puisi atau sajaknya dengan pertanyaan dan disusul jawaban atas pertanyaan yang dilontarkan. Saya ingin mengomentari per bait puisi ED.
Pertama, pada bait awal yang terdiri dari 6 baris, ED membahasakan puisinya demikian; /Ke manakah kisah ini akan tiba?/Setiap jejak merupakan awal yang tak pernah berakhir/Lembaran waktu yang berhenti berdetak/Kuusap nadir pada helai hayal/Datang dan pergi/Tak tahu awal juga akhir.
Bait pertama puisi di atas menyodorkan kepada pembaca sebuah pertanyaan eksistensial mengenai kisah atau boleh dikatakan cerita umat manusia secara universal. ED tidak membahasakan secara jelas “kisah” yang dimaksudnya. Jika kita melihat realitas dengan setiap persoalan yang dihadapi, sakit, bencana, pembunuhan, pemerkosaan, dan lain-lain, maka ED sebenarnya memulai puisinya dengan mengintrogasi kisah anak manusia (baca, pengalaman) yang sedang terjadi saat ini. Hemat saya, kisah yang dimaksud ED dalam pertanyaan tersebut di atas berupa situasi-situasi ketercabutan, atau dalam pemikiran filsuf Karl Jaspers disebut “situasi-situasi batas” (Leo Kleden, 2013:2).
Karl Jaspers seorang filsuf eksistensialis pernah menguraikan pemahamannya bahwa adanya manusia selalu ditentukan oleh situasi-situasi konkret. Demikian juga eksistensi manusia selalu “tampak” dalam situasi-situasi tertentu. Situasi-situasi, dimana manusia menemukan diri sebagai “eksistensi,” disebut Jaspers “situasi-situasi perbatasan.” Dalam konfrontasi dengan kematian, penderitaan, perjuangan serta dalam kesalahan kita  merasa betapa fana hidup kita. Berangkat dari “situasi-situasi perbatasan”, benar sekali bahwa ED menyambung, /Setiap jejak merupakan awal yang tak pernah berakhir/Lembaran waktu yang berhenti berdetak/Kuusap nadir pada helai hayal/Datang dan pergi/Tak tahu awal juga akhir/. Kisah anak manusia atau cerita pengalaman kita pada umumnya selalu meninggalkan jejak atau bekas-bekas perjalanan. Manusia justru selalu memulai ziarahnya dengan melangkah, mengangkat kaki kiri atau kanan dan mulai berjalan maju. Ketika perjalanan itu semakin jauh, di sana akan ada banyak jejak yang ditinggalkan. Jejak itu adalah pengalaman yang selalu disandingkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut manusia. Inilah fakta yang dialami oleh setiap manusia yang belum tentu dijawab sampai tuntas.
Mengapa ED mengatakan lembaran waktu yang berhenti berdetak? De facto, manusia justru hidup dalam sejuta pertanyaan yang terus dilontarkan, “Mengapa kami sengsara, Tuhan?”. Begitulah ED melihat situasi konkret manusiawi, bahwa ada banyak luka yang terus terjadi dalam setiap detik, menit yang terus berlalu.
Lembaran waktu yang berhenti berdetak menjadi kalimat yang hidup dan memberi makna adanya situasi “kematian waktu”. Waktu itu sudah mati dalam setiap persoalan-persoalan keterbatasan manusia, bencana, sakit, kemiskinan, pembunuhan, pemerkosaan, dan lain sebagainya. Dalam situasi yang demikian, manusia merasa ada “kekeringan”, bahkan merasa tidak berarti apa-apa di hadapan-Nya. Semuanya itu terus mengiringi langkah perjalanan manusia dan tak pernah ada akhirnya. Kemudian, muncul pertanyaan-pertanyaan yang belum tentu semuanya itu dijawab.
 Kedua, terdapat 4 baris dalam bait kedua puisi ED yang berbunyi, /Di kisah ini/Sembari kuberdoa/“Tuhan ke mana aku harus pergi”/Sedang arah tak menentu. Pergulatan dari kisah itu membawa ED pada permenungannya dengan Tuhan. Seakan ED mengadu dengan Tuhan atas peristiwa-peristiwa yang menimpa manusia. ED berdoa dan bertanya “ke mana ”; menjadi  semacam “gugatan” penyair atas persoalan-persoalan yang dihadapi manusia.
Paul Budi Kleden dalam bukunya berjudul Membongkar Derita, Teodice: Sebuah Kegelisahan Filsafat dan Teologi sengaja menggugat kita agar kita sampai pada pertanyaan-pertanyaan eksistensial kita sebagai manusia, termasuk bertanya tentang kehadiran Allah di dalam penderitaan, Engkau di mana Allahku? Penderitaan mesti dibongkar karena ia merusakkan unum (kesatuan), verum (kebenaran) dan pulchrum (keindahan). Penderitaan sebagai situasi malum (buruk) bertolak belakang dengan kesatuan, kebenaran, dan keindahan (Budi Kleden: 2007: 17-18). Sehingga dari dalam biara yang diam, hening, dan membutuhkan waktu lebih banyak untuk bermenung diri itu, ED menyempatkan sedikit waktunya untuk menengok keluar dari biara dan mendapatkan sedikit persoalan manusia lalu mengangkatnya ke permukaan. ED sedang “menggonggong” dan “membongkar” penderitaan manusia. Sebuah pertanyaan, apakah penderitaan itu berasal dari Allah sebagai hukuman atau kejadian alam biasa atau berasal dari perbuatan manusia sendiri? Kenyataan penderitaan dapat ditutupi dan dimanipulasi oleh siapa saja, seperti penderitaan dianggap sebagai cobaan belaka, kita harus lebih pasrah pada nasib, dan pada akhirnya kita hanya diam. Budi Kleden justru menekankan hal baru, yaitu pentingnya kejujuran dan keterbukaan terhadap realitas penderitaan karena akan membuat orang sadar akan dirinya yang sebenarnya dan penderitaan yang sedang dialaminya. Karena itu, puisi racikan ED sesungguhnya membuka mata dan pikiran kita untuk berkaca pada situasi-situasi keterbatasan manusia. Kita bukan hanya “menggonggong”, tetapi juga “membongkar” penderitaan yang sudah pasti diciptakan oleh manusia sendiri.
Ketiga, bait terakhir puisi ED terdiri dari 5 baris. Di sini, ED mengangkat situasi pantai dan bukan situasi biara di mana ia tinggal. /Di bibir pantai/Kucoba menghitung desir/Tapi tak abadi/Apa kau Tuhan????/Jejak yang selalu abadi. Kita perlu bertanya, mengapa ED membahasakan akhir dari puisinya dengan menyinggung “pantai”? Hemat saya, kalau ED ingin menampilkan situasi hanya di biara saja, maka puisi ED hanya menjelaskan realitas panggilannya semata. Namun, patut diapresiasi bahwa ED menyentil “pantai” sebagai locus atau tempat yang berada di luar dari biara. ED benar-benar keluar dari situasinya, yaitu “biara” dan mengakrabi diri dengan situasi “pantai”, situasi masyarakat kebanyakan, situasi di desa dan kampung-kampung kita. “Pantai” menjadi sebuah locus yang akrab dengan masyarakat di luar. ED juga menyinggung nama Tuhan, Apa kau Tuhan? Jejak yang selalu abadi. ED kembali mengakui bahwa dalam setiap derita dan cobaan atau situasi-situasi batas yang dihadapi oleh manusia, di dalamnya ada misteri. Ada sesuatu yang lain yang disebutnya sebagai “yang abadi”. Apakah itu bukan Tuhan? Setiap penderitaan baik itu paling menyakitkan, selalu saja nama Tuhan itu disebut. Manusia berkaca dalam situasi-situasi batas agar bisa menarik diri untuk merenungkan “wajah Allah” di dalamnya. Ini menjadi hal yang sangat baik kalau kita terus merefleksikan pengalaman-pengalaman hidup kita masing-masing.

Cuma Menengok?

Maka, dari dalam biara itu, ED seperti “menggonggong” dengan nyaring dan “membongkar derita”. Bunyi nyaring itu pun ditemukan dalam puisi atau sajak hasil racikan ED sendiri. Dari “biara” yang diam, hening, dengan rutinitas yang sama itu, ternyata seseorang mampu “menengok” ke luar dan melihat keterbatasan manusiawi yang sarat dengan “situasi-situasi perbatasan” itu. Apa kita hanya “menengok” saja?

Dimuat di Flores Pos


Senin, 29 April 2013

Puisi Eto Kwuta/Ada dalam Kata





                       Ada dalam kata
-Untuk Hanson Hayon

Bermula dari kata Serupa kata engkau
Lahir dari huruf ibu 
Membidikan diam terurai merdu kata-kata

Ku sebut engkau baris dan rima puisi
Berjejal-jejal intuisi
Lalu hati membakar pesi puisi:
Engkau ada, sungguh!

Kampus Ledalero, 26 April 2013

Minggu, 28 April 2013

Puisi Eto Kwuta/Sahabat (dari teman lama)






Sahabat
(dari teman lama)
Ku tulis cerita ini, kala jejakmu masih ada
di sini
Beginilah rasa yang
kujalani:
              “bagai air di daun talas aku
          sejalan”
Apa kau ingat aku seperti pengemis paling laku
Laku? Ya, aku selaku diriku
yang mau segera kau melecut
Melecut, agar aku tak dikata bagai pembuntut

          Apa kau masih merindu prahara?
          Terhempas waktu yang tiada letih berbincang tentang
          Cinta yang rapuh
          Atau, rindumu masih bicara?
Sudahlah, aku bukanlah neraka yang menunggumu
Bukan pula surga, tapi aku merasa kita kalah
Tak ada bahagia yang selamanya kita rangkai dalam

cinta
          Pahit, terasa pahit!!
          Biarlah aku pergi membawa
          Sepotong hati
          Entah. Barangkali sampai ke musim yang
          payah
          dan, semuanya tak ‘kan pernah kembali
Biarlah kita bersandar pada angin.
                                       
St. Mikael, 06 may 2012

Puisi Eto Kwuta/Tentang Pemimpi





Tentang Pemimpi (1)
 
Di tebing waktu
Membuntut musim yang terus meruncing
Sisakan keping-keping rindu
Patah tumbuh hilang berganti
Mendiami hati seorang perantau

Akankah mimpi dia jadi setitik tanur
Menyala pada tapal cita yang semarak
Atau ‘kan berubah jadi kuntum
Menghiasi pagi hari di sini

Barangkali dia terselip
Terpekur dan tertambat pada aura zaman yang terus memanggil
Hingga rasa kecut melekat

Tentang Pemimpi (2)

Galau membingkai setiap musimmu
Serupa kabut hitam memburu langkahmu
“Apa benar mimpi itu seperti kabut hitam menghantui hayalmu?”

Masih ada rembulan mengintip di balik awan itu
Dan selaksa bintang menyemaraki duniamu
Apa kau takut memetiknya?
Datanglah malam ini
Pasti habis gelap ini terbitlah terang
Barangkali kau memetik matahari esoknya

                                                            St. Mikael, 07 mei 2012

Puisi Eto Kwuta/Mimpi







MIMPI

Aku mengalami indahnya sebuah mimpi

                                           Malam yang sepih, malam yang panjang                                          
Aku melihatnya datang dari suatu
dunia yang tak malang
Ada cahaya  menyilau terang-benderang
Awalnya putih-putih dan  perlahan jadi hitam-putih
            Ini aku datang berjumpa
            Jangan pergi sebelum bersua
Haaa, mimpi?
Surganya para pemimpi
Selalu berkisah, indah.

              St. Michael, 27-04-2012

September dan Kitab Suci

Agustus sudah pergi. September datang seperti sedang berlari. Angin kencang tak digubrisnya. Dingin kota Ende tak berarti di dalam tubuhnya....