Minggu, 28 April 2013

Puisi Eto Kwuta/Maya






 Maya

Maya,
Sebentar lagi 
fajar lembut merekah
Mengapa mimpimu
tak kunjung terjaga?



Di dunia ini
Tak ada yang abadi
Mari kenakan senjata cahaya
Mumpung pagi sebentar  lagi datang


Maya,
Kita hidup berujung mati
Sekali-kali beri arti
                                               
Mikael,10 Maret 2012

Puisi Eto Kwuta/Cerita Buat Kekasih





Cerita Buat Kekasih


            Dengarlah, kasih




            Ketika malam membungkus diri dengan selimutnya




            Dan bintang melukis wajah-Nya




            Selalu ada yang duduk tanpa kata




            Namun ada juga yang melukis rindu

 




Dengarlah, kasih




            Jangan cepat-cepat katakan aku berhenti




            Karena aku pasti sendiri menanti sang waktu




            Hingga detak-detaknya berlagu cinta




            Tentang kita yang  ternyata berbeda




 




            Dengarlah, kasih




            Tinggalkan sedikit  rasa di ruang hatimu




            Tentang cinta dan kita yang diam berkali-kali




            Nanti kau pasti paham, kasih




            Sang waktu akan menulis pada dinding batu




            Bahwa kita pernah ada




 




            Dengarlah, kasih




            Jika malam ini aku adalah diam




            Hiburlah aku dengan dongeng ciptaanmu




            Dan akan ada tawa, dalam sepi yang semakin mencekam




                                                                       Nice place, 3o Agustus 2012




                                                                       Pada malam yang teramat manis



Puisi Eto Kwuta/Di Jedah Nafas-Mu, Aku

 
Di Jeda Nafas-Mu,  Aku


Di jeda nafas-Mu, aku tersentak

dan senja ini membentang kepak.

Lalu Engkau tertunduk tiada mengajak

melukis kayu yang tak lagi tegak.


Tuhan.......

Aku tersentak,

malu menanam hati pada puncak retak.

Sembari kuberpijak,

menatap-Mu memeluk diam tanpa sajak.


Tuhan.......

Kini di jeda bisu-Mu, kupeluk

dalamnya duka Golgota.

Dan kebenaran hanyalah seteguk

Lalu tumpah pada akhir cerita.


Tuhan....

Aku buta. Sehabis terhempas  dangkalnya cita-cita.

Mungkin sampai  senja  berlalu berlari menepis malam hingga pagi

bercerita.

Aku tetap buta. Terperangkap kebutaan mencinta.

Di sini masih kujumpai Golgota  bercerita tentang cinta dalam derita.


Tuhan......

Aku gemetar. Pada hidup yang berputar berujung  duka.

dan tanya apa itu kebenaran tak mampu kukata



Tuhan ......

Di jeda nafas-Mu, kutengadah

menyapa diri yang payah

susah

sepi


Tuhan....

Panggil aku.

Panggil aku debu pada kaca.

Panggil aku kayu pada abu.

Ternyata aku sampah.

Tuhan....

Di jedaPuisi nafas-Mu, kuberkisah                   

“Ternyata cinta itu murah, tapi

 mencinta itu tidaklah murah”.


St . Michael-Ledalero, 15/03/12

Puisi Eto Kwuta/Tentang Bola Mata




Tentang  Bola Mata
(Dari Rakyat)

Pada bola mata itu
Kata-katamu
Berkhidmat penuh janji nikmat:
Revolusi

Sungguhkah revolusi
atau korupsi?

Matamu memang paling malang
Selalu melakoni:
Kebohongan.

                                             Nita Pleat, 24 November 2012.

Puisi Eto Kwuta/Pilihan



Pilihan
(Permenungan pada detik-detik itu)

I
kucumbu detik-Mu pergi-datang
di detak-detak jantung ini
aku memburu-Mu
II
aku malu
menjalang pada bibir kasih-Mu
lalu memilih cinta akan rumah-Mu.

                                                           Nita pleat, 30 Desember '12.

September dan Kitab Suci

Agustus sudah pergi. September datang seperti sedang berlari. Angin kencang tak digubrisnya. Dingin kota Ende tak berarti di dalam tubuhnya....