Senin, 03 November 2014

Bedah dan Diskusi Puisi: Mendidik dari Nol



 Bedah dan Diskusi Puisi: Mendidik dari Nol
Oleh Eto Kwuta
Mahasiswa STFK Ledalero. Tinggal di Nita Pleat

(Tulisan di bawah ini merupakan ketertarikan saya mengomentari Bedah dan Diskusi Puisi Semester IIIE PBSI FKIP Uniflor serentak mengapresiasi Harian Flores Pos)

Harian Flores Pos, Sabtu, 01 Februari 2014 menurunkan sebuah tulisan oleh Y. Yerusman Tage, dkk. Mahasiswa Semester IIIC PBSI FKIP Uniflor. Judul tulisan yang dimuat pada hlm 14, yaitu “Pulihkanlah Negeri Tercinta”. Setelah membaca keseluruhan tulisan tersebut, saya berpikir kalau Yerusman, dkk. pantas diacungkan jempol. Namun, hal yang penting ialah bahwa harian ini terus mempublikasikan hal seputar sastra. Dan yang berbicara mengenai sastra (baca: bedah dan diskusi puisi) adalah mahasiswa/i PBSI FKIP Uniflor. Sebelumnya, saya terus mengikuti perkembangan Bedah dan Diskusi Puisi di harian ini. Untuk itu, kali ini saya ingin mengomentari sedikit. Apa sebenarnya nilai pendidikan yang didapat dari kegiatan semacam ini.
Menarik sekali. Lembaga Pendidikan Uniflor sungguh-sungguh memperhatikan soal sastra. Hemat saya, sangat mendidik. Sebagai seorang yang masih duduk di bangku kuliah, saya merasa ada banyak hal yang diperoleh dari Bedah dan Diskusi Puisi. Penulis ingin menyoroti beberapa dari banyak hal penting dari kegiatan tersebut.

Bedah dan Diskusi
Kata “bedah” merupakan nomina atau kata benda yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti pengobatan penyakit dengan jalan memotong (mengiris) bagian tubuh yg sakit. “Bedah” juga memberi arti operasi. Selanjutnya dalam verba atau kata kerja menjadi “mem-bedah”. Membedah berarti memotong (mengiris dsb) bagian tubuh yg sakit; atau mengoperasi. Hal yang menarik dalam KBBI bahwa ditemukan adanya “bedah buku”, suatu pembicaraan dan diskusi mengenai isi buku. Lebih jauh, kalau dihubungkan dengan Bedah dan Diskusi Puisi, maka kegiatan mahasiswa/i semester IIIE PBSI FKIP Uniflor sebetulnya memberi kesan tersendiri.
Sebuah puisi karya John Dami Mukese berjudul “Ratapan Semesta” dibedah serentak didiskusikan. Hemat saya, kegiatan “membedah” berarti mengoperasi atau mengiris suatu hal menjadi semakin kecil dan mudah dipahami. Seperti halnya puisi, ketika dibedah dan didiskusikan lebih jauh, maka akan ditemukan makna atau arti terdalam dari setiap kata atau kalimat yang ada di dalam puisi tersebut.
Tentang Bedah dan Diskusi Puisi ini, sebetulnya memberi beberapa nilai positif bagi dunia pendidikan dalam hal sastra. Saya lebih melihat kegiatan semacam ini sebagai sebuah revolusi sastra. Hal apa yang patut dijadikan bukti adanya revolusi sastra?
Pertama, Kolom  Flores Pos sebagai sebuah koran kebanggaan NTT setiap hari Selasa tampil dengan kolom imajinasinya yang menarik. Sebuah kolom yang memuat puisi-puisi putra-putri NTT. Kolom ini dilihat sepintas seperti tak bermakna karena memuat karya-karya orang yang barangkali dilihat biasa saja, penuh idealisme dan terlihat merusak bahasa Indonesia karena susunan kata-kata yang kadang sulit dimengerti. Sejauh ini, Flores Pos juga menyiapkan secara khusus halaman untuk penuangan ide bagi mahasiswa/i Uniflor dan beberapa foto menarik dari kegiatan yang diadakan. Sekecil apa pun kegiatan tertentu, tetapi kalau itu berhubungan dengan pendidikan, maka kegiatan tersebut justru sangat mendidik.
Kedua, kegiatan Bedah dan Diskusi Puisi merupakan kegiatan langkah. Tidak semua orang menggumuli sastra dan belum tentu semua universitas mewajibkan mahasiswa/i-nya bergelut melakukan kegiatan serupa. Tentu menjadi hal yang terpuji dan patut diapresiasi, kalau toh bedah dan diskusi puisi menjadi kegiatan rutin mahasiswa/i PBSI FIKIP Uniflor, maka kita patut berterima kasih kepada harian Flores Pos yang menyediakan kolom tersendiri mengenai sastra dan berita mengenai kegiatan sastra bagi mahasiswa/i Uniflor. Penulis melihat, nilai yang dipetik dari “membedah dan mendiskusikan puisi” adalah melatih kecerdasan mahasiswa/i untuk berpikir kritis. Sebagai agen masa depan Gereja dan Negara, mahasiswa/i dilatih untuk mengemukakan ide-ide dan rasa ingin tahu. Mengutip Daniel O. Suek, Guru Bahasa dan Sastra Indonesia yang mengatakan bahwa kegiatan Bedah dan Diskusi Puisi justru mendidik generasi penerus agar kemampuan, kecerdasan, emosi, relasi, kematangan, dan kedewasaan bisa berjalan seimbang (FP, 01/02/14).
Ketiga, pemilihan puisi berjudul “Ratapan Semesta” karya John Dami Mukese (Sastrawan NTT) menjadi sangat cocok didiskusikan. Kebetulan sekali penulis pernah membaca puisi ini sebelumnya. Kalau mau dibilang, puisi ini memiliki daya pukau luar biasa. Puisi yang sebetulnya “menguak” tanya sekaligus “membongkar”. Seperti beberapa larik-larinya berbunyi demikian; // Dari padang-padang tandus / kami mengaduh / Dari bukit-bukit gundul / kami mengeluh / Dari lembah-lembah gersang / kami mengerang / Dari sungai-sungai kering / kami menjerit //. Terdapat asonansi atau perulangan bunyi vokal dalam deretan kata yang justru mengelitik dan memengaruhi rasa ingin tahu. Keingin-tahuan ini biasanya diangkat oleh siapa saja yang kurang memahami isi puisi. Misalnya, para siswa SMP sebagai peserta yang hadir dan mengajukan pertanyaan dalam kegiatan ini. Bermula dari rasa ingin tahu, maka mereka kemudian tahu dan akhirnya memahami dengan baik. Bisa menjadi mungkin, peserta yang belum memahami maksud terdalam sebuah puisi berani bertanya, mengapa perlu mengaduh, mengeluh, mengerang, dan menjerit?
Jawaban atas pertanyaan ini bervariasi. Barangkali kita perlu mengaduh karena bencana yang sedang melanda, seperti kekeringan, kelaparan, letusan gunung berapi dan lainnya. Bencana alam justru memancing banyak keluhan. Maka, manusia mengeluh dan mengerang kesakitan. Jalan terakhir yang dipilih, yaitu menjerit. Apakah itu karena sakit yang diderita? Manusia justru banyak kali mengaduh kepada Tuhan. Seperti Cahiril mengaduh dalam sepenggal puisinya berjudul “Di Mesjid”, / Kuseru saja Dia / Sehingga datang juga / Kamipun bermuka-muka. / Seterusnya ia bernyala-nyala dalam dada //. Seruan yang menjadi doa. Sebuah pergumulan manusia biasa, selayaknya Cahiril; mengaduh, mengeluh, mengerang dan menjerit adalah manusiawi. Mungkin ini jawaban salah satu dari sekian banyak jawaban bagi mereka yang belum memahami maksud dari sebuah puisi.
Dengan begitu, bedah dan diskusi sastra sungguh menjawabi keingintahuan peserta, terutama siswa/i SMP atau SD. Artinya, kegiatan ini menjawabi angka 0 (nol), atau kekosongan, atau dari tidak tahu sama sekali menjadi tahu. Oh, ternyata begini maksudnya.
Keempat, Bedah dan Diskusi Puisi menjadi sebuah ruang ekspresi intelejensi. Ruang untuk menggali apa yang belum diketahui bersama. Adanya interaksi, saling belajar dan berbagi. Sekali lagi, membedah dan mendiskusikan puisi sama dengan solusi untuk memecahkan pemahaman yang sempit mengenai sastra, khusunya puisi. Ketika sebuah diskusi diadakan, sebetulnya sangat membantu ketimbang belajar sendiri. Mahasiswa/i di mana pun mereka berada, selalu ada “tukar-tangkap”, atau kegiatan seperti diskusi ilmiah merupakan usaha mendidik dari nol.
Kalau diingat-ingat, ketika masih duduk di bangku SD, guru Bahasa Indonesia hanya mengajukkan pertanyaan, siapa pencipta lagu Indonesia Raya, atau pertanyaan lain, siapa pengarang buku “Habis Gelap, Terbitlah Terang”; atau pun siapa yang menghasilkan puisi berjudul “Kepada peminta-minta”. Tentu banyak yang angkat tangan dan menjawab secara mudah dan tepat. Hemat saya, itu sudah mendidik, tetapi belum sepenuhnya membentuk daya kritis siswa maupun siswi. Dengan demikian, apa yang sudah ada (baca: bedah dan diskusi puisi), harus tetap ada. Bukan hanya itu, pembacaan puisi, lomba menulis puisi atau pun cerpen, dan lain hal yang berhubungan dengan sastra perlu dihidupi. Dari mana harus memulainya? Tentu, kita mulai dari SD, SMP, SMA, dan selanjutnya Perguruan Tinggi, atau selama hayat masih dikandung badan. Profisiat untuk Yerusman Tage, dkk. Viva Flores Pos!*



Kritikus Mencari Posisi (sebuah opini)

Kritikus Mencari Posisi?
(Tanggapan Atas Opini John Mai)
Oleh Eto Kwuta
Penghuni Wisma St. Arnoldus Yansen-Ledalero
Pos Kupang edisi Sabtu, 15 Maret 2014 menurunkan sebuah opini John Mai berjudul; Kritikus Mencari Posisi. John Mai menanggapi opini Marsel Robot dan Yosep Riang dengan tulisan yang menarik. Ketika membaca tulisan ini, saya merasa perlu untuk mengajukan pertanyaan ini, siapakah kritikus yang mencari posisi itu? Saya cenderung berpikir kalau tulisan John Mai tersebut mensinyalir adanya kecurigaan terhadap seorang kritikus yang belum jelas namanya. Hemat saya, yang belum jelas namanya itu adalah Marsel Robot. Beliaulah yang pertama mengeritik Prof. Umbu. Maka, penulis hendak mencari posisi kritikus tanpa nama tersebut. Atau sebuah pertanyaan muncul juga di sini; benarkah seorang kritikus mencari posisi?
Sejauh membaca tulisan John Mai, saya tak habis pikir kalau manusia sebagai pribadi yang berbeda dengan yang lain itu tidak dapat dibandingkan dengan yang lain. Betapa tidak, manusia adalah individu yang otonom, bebas, bertanggung jawab, dan memiliki kodrat rasional yang paling unik. Apakah itu tidak bisa dibandingkan dengan individu yang lain? Adalah benar ketika kodrat rasional itu yang memungkinkan manusia berjalan pulang ke dalam dirinya dan bersatu dengan yang lain di luar dirinya. Lalu, apalah artinya seorang kritikus Marsel Robot yang justru sudah masuk ke dalam dirinya dan menemukan sesuatu yang lain di luar dirinya?

Mencari Posisi Kritikus
Benjamin Franklin, salah seorang Bapak Pendiri (Founding Father) Amerika Serikat itu pernah mengungkapkan bagaimana posisi seorang kritikus. Menurutnya, setiap orang bodoh bisa mengkritik, menuduh dan mengeluh; dan kebanyakan orang bodoh melakukan hal itu. Marsel Robot mungkin berada dalam posisi ini. Namun, apakah kritik beliau dikatakan bodoh?
Benyamin Franklin menemukan orang bodoh itu kebanyakan di kalangan para kritikus, tetapi kebodohan yang dimaksud tidak selamanya dilihat sebagai sangat bodoh atau tidak tahu apa-apa.
Menanggapi tulisan John Mai, saya hendak menggarisbawahi beberapa hal berhubungan dengan judul opininya Kritikus Mencari Posisi. Pertama, sang kritikus adalah seorang yang secara bebas mengungkapkan pendapat, melihat realitas, dan mulai berbicara secara terbuka. Posisi seorang kritikus pada dasarnya siap ditantang dan dinilai tidak logis, terlalu subyektif dan tidak memiliki indikator apa pun. Maka, Marsel Robot sudah berada pada posisi ini.
Kedua, sang kritikus memainkan kritiknya secara terbuka dan bukan tanpa dasar. Kebanyakan orang takut memberikan kritikan, apalagi kepada atasan. Namun, apa yang dibuat Marsel Robot sebetulnya membingkai keberanian mengutarakan pendapat. Orang yang mencari aman biasanya tidak merasakan kritik sebagai kebutuhan, tetapi Marsel Robot sebaliknya. Saya justru menemukan sang kritikus itu tidak serta-merta membeberkan fenomena yang diamatinya sehingga opininya bukan berangkat dari ambisi untuk mencari posisi, melainkan beliau melihat kalau kritik itu berciri dialektis. Itu berarti kritik adalah baik dalam tanggung jawab sang kritikus maupun kebesaran hati si penerima kritik, sehingga proses kritik kemudian memberi sintesis perbaikan serentak penyempuranaan diri.
Ketiga,  saya cukup beralasan menilai kalau tanggapan John Mai atas opini Marsel Robot dan Yosep Riang tersebut adalah juga penilaian subyektif. Betapa tidak, Marsel Robot sebagai seorang pelaku kritik (mungkin) dikatakan mempunyai ambisi mencari posisi. Apa posisi itu? Barangkali kita bisa menduga-duga kalau yang dimaksud dengan kritikus mencari posisi adalah Marsel Robot yang mencari kursi kepemimpinan. Mungkin sekali! Namun, perlu digarisbawahi kalau posisi Marsel Robot adalah sebagai pelaku kritik atau sang kritikus, bukan kritikus yang mencari posisi. Kalau berbicara mengenai kritikus yang mencari posisi, maka Marsel Robot adalah bukan seorang kritikus, melainkan sosok serigala yang setiap kalinya berupaya memangsa lawannya.
Membaca opini John Mai, penulis sungguh menemukan bahwa  ada penglihatan secara sempit mengenai sang kritikus. Hemat penulis, sang kritikus Marsel Robot sungguh menumbuhkan keberanian untuk melakukan konflik argumentatif secara terbuka sehingga secara rasional dihasilkan kemenangan bagi yang paling mampu mempertanggungjawabkan argumennya berdasarkan fakta, pembuktian, penalaran dan bukan berdasarkan ambisi atau motivasi untuk mencari posisi tertentu.*

Dari Peristiwa ke Imajinasi



Dari Peristiwa ke Imajinasi
(Apresiasi atas Cerpen Hujan di Biara karya Hans Hayon)
Oleh Eto Kwuta
Sebuah cerpen kadang ditafsirkan memiliki bobot tertentu, mengandung pesan-pesan yang setidaknya mengintensifkan cara pandang pembaca terhadap kenyataan. Seperti halnya novel, cerpen terbagi dalam dua garis besar, yaitu cerpen fiktif dan faktual. Cerpen fiktif harus benar-benar fiksi, khayalan, bahkan impian. Cerpen semacam ini paling sering dijumpai di tabloid atau majalah hiburan. Sedangkan cerpen faktual berangkat dari kejadian nyata atau realitas sosial. Cerpen faktual memang juga fiksi, tetapi tidak sepenuhnya fiksi karena masih berpijak bahkan mengais-ngais kenyataan. Cerpen faktual biasanya hadir dalam surat kabar (surat kabar yang sudah terpercaya, seperti Pos Kupang dan Flores Pos).
Menjadi soal, ketika cerpen dilihat sebagai bentuk bacaan hiburan (muncul setiap hari Minggu). Dan Pos Kupang, Minggu, 2 Maret 2014 menurunkan sebuah cerpen dengan judul Hujan di Biara (Surat Untuk Tuhannya Grace) karya Hans Hayon. Cerpen yang sangat menarik. Setelah membaca cerpen ini, saya bangga dengan kecerdasan Hans membaca peristiwa dan mengemasnya dalam imajinasi yang memukau. Sebuah pertanyaan, apakah cerpen ini hanyalah sebuah hiburan saja?
Bertolak dari pertanyaan  tersebut, saya mengajak kita melihat lebih jauh serentak memaknai nilai apa saja dalam cerpennya tersebut. Sehingga, cerpen bukan sekedar hiburan, tetapi mengantar pembaca kepada satu interpretasi dan juga apresiasi.
Hans mencipta cerpennya dalam alur atau plot yang unik. Pertama, Bagian awal. Cerpen ini mempunyai dua bagian, yaitu eksposisi dan instabilitas (ketidakstabilan). Eksposisi menjelaskan atau memberitahukan informasi yang diperlukan untuk memahami cerita. Dalam hal ini, eksposisi yang ditampilkan berupa penjelasan tentang sisi Grace di tahun 2000. Menarik sekali karena Hans membiarkan Grace (tokoh aku) berbicara terbuka dan penuh keyakinan. Seolah-olah Hans adalah Grace. Artinya, Hans menyelami perasaan perempuan, bahkan pelan-pelan menjadi perempuan yang menulis, MUNGKIN akulah wanita pertama yang berani menangis karena sebuah biara. Kegeramanku memuncak saat panggilanku makin sekarat hanya karena lilitan aturan hidup yang baku. Kaku. Aturan yang membuatku terpaksa beranjak pergi,...dst. Hemat saya, eksposisi tersebut mengantar pembaca seolah-olah menjadi Grace. Kita (baca: pembaca) adalah juga aku-nya Grace yang bebas serentak nyata.  Begitu juga dengan instabilitas (ketidakstabilan), yang mana terdapat keterbukaan. Yang dimaksud di sini adalah cerita mulai bergerak dan terbuka dengan segala persoalannya. Hans menulis: Sesudah menemukan kebuntuan atas pertanyaan-pertanyaan eksistensial tersebut, aku putuskan untuk mengakhiri ziarah panggilanku sebagai seorang biarawati. Hal yang lumrah bukan, jika seorang wanita sepertiku melakukan hal demikian dalam situasi terjepit? Tampak jelas bahwa yang dimaksud cerita mulai bergerak dan tebuka adalah karena informasi ini belum tuntas serentak menimbulkan pertanyaan, mengapa Grace memutuskan untuk mengakhiri panggilannya? Maka, dari ketidakstabilan ini muncul pengembangan cerita ke tahun 1999.
Kedua, bagian tengah (tahun 1999). Ketidakstabilan di atas menimbulkan suatu pengembangan cerita, tetapi tidak dimulai dari ketidakstabilan itu. Hans justru memulai dengan jawaban atas pertanyaan yang muncul, seperti yang disebutkan di atas. Jawaban itu sedikitnya menggambarkan konflik, bahwa Grace berhenti dari panggilannya karena jatuh cinta. Seperti apa Grace jatuh cinta? Hans menguraikan; Gerbang neraka seakan melebar pada cinta jenis ini. Cinta yang diharamkan oleh agama, masyarakat, tradisi, dan mungkin Tuhan juga. Apakah itu cinta sesungguhnya? Atau cinta yang diharamkan? Hal yang sangat menarik ialah Hans menguraikan posisi Grace yang sadar, hidup, dan kritis itu saat berhadapan dengan persoalan cinta juga sahabat karibnya, Ratih.
Ketiga, Bagian terakhir. Hans memberi kejutan (surprise) yang terletak pada kalimat: "Maafkan aku, suamiku. Aku hanya sanggup menatapmu dari tempat ini tanpa berbuat banyak untuk menolongmu,". Saya justru tidak menemukan Hans menguraikan bagaimana kematian Grace, tetapi saat membaca kalimat ini, saya akhirnya paham kalau peristiwa kematian itu sudah diuraikan pada bagian tengah cerpen, yaitu tampak dalam kalimat; Ketika pagi belum terlalu dewasa, betapa kagetnya Ratih saat menemukan Grace tak ada..dst. Luar biasa, Hans mengedepankan sisi "Grace" yang masih mencintai suaminya walaupun ia sendiri mati karena suaminya, Lukas Sabtu. Dalam ceritanya, kita dihadapkan akan pertanyaan-pertanyaan reflektif tentang cinta dan pilihan. Grace adalah sebuah keberanian dalam mencintai. Setelah membaca kisah ini, bertanyalah kepada diri Anda sendiri: "Apakah cinta yang membahagiakanmu?"
Dengan begitu, cerpen Hans sungguh berangkat dari peristiwa ke imajinasi. Hans membaca peristiwa yang pernah terjadi dan meraciknya kepada imajinasi. Imajinasi memang sifatnya begitu individualistik. Namun, kekuatan imajinasi membebaskan satu karya dari keterikatan penulis dengan suatu peristiwa. Hans telah menunjukkannya bagi kita. Profisiat untuk Hans Hayon!*

Senin, 18 Agustus 2014

Puisi yang Lahir dari Rutinitas



Puisi yang Lahir dari Rutinitas
(Apresiasi atas Puisi Yohan Wutun)

Oleh Eto Kwuta
Bergiat pada Komunitas Sastra Sandal Jepit Nitapleat Ledalero

"Sejak dua minggu lalu, setiap malam, sesudah dengar radio, aku bunuh diri, pakai sajak yang kau tulis, dengan tangan kirimu. supaya setiap pagi, sebelum lonceng berbunyi, aku dapat bangkit lagi, mengasah tajam-tajam, sajakmu, yang itu-itu lagi." Demikianlah bunyi sajak yang ditulis oleh saudara Yohan Wutun dengan judul "Rutinitas" (2014). Yohan Wutun adalah rekan sebiara dalam Serikat Sabda Allah (SVD), yang untuk selanjutnya saya sebut YW. Ia menulis sajak ini dalam sebuah statusnya di Facebook. Ketika membaca sajak YW, di benak saya muncul sebuah pemahaman mengenai puisi yang sedikit aneh. Umumnya, orang mengartikan puisi sebagai ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Atau, gubahan bahasa yang bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman supaya membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus. Maka, puisi YW di atas, hemat saya merupakan  sebuah proses mempertajam adanya (diri YW) dalam, dari, dan untuk sesuatu. Dan, sesuatu yang dimaksud di sini ialah rutinitas.
Membaca sajak YW ini,  pertama-tama dipahami bahwa YW hidup dalam biara dengan segala aturan yang ada di dalamnya. Biara sebagai tempat mendidik calon imam mencerminkan sesuatu yang rutin, dengan segala aturan yang disusun teratur dan tidak berubah-ubah. Atau, serangkaian perintah yang dirancang untuk beberapa tujuan tertentu dan memiliki penggunaan umum. Maka, sajak berjudul "Rutinitas" ini sebenarnya lahir dari sebuah kesadaran akan sesuatu yang rutin, sehingga memberi makna bahwa sajak YW tercipta dari kesadarannya yang penuh, dalam, dari, dan untuk sebuah rutinitas. 

YW dan Puisi
                YW adalah seorang adik satu seminari sejak bersekolah di Seminari Hokeng. Setelah tamat dari Seminari Hokeng, YW masuk Novisiat Sang Sabda di Kuwu, Ruteng, Manggarai. Sekarang, YW tengah belajar filsafat di STFK Ledalero sambil menulis puisi juga cerpen. Kecintaan YW pada sastra, khususnya puisi dan cerpen yang digumulinya sejak masih di Seminari Hokeng membawanya meraih Juara I (satu) lomba Sayembara Menulis Cerpen Menyongsong Dies Natalis STFK Ledalero (2013). Beberapa puisi YW juga sudah dimuat di Harian Flores Pos dan beberapanya di Jurnal  Sastra Santarang (sebuah jurnal sastra yang menghimpun tulisan-tulisan putera-puteri NTT berupa puisi dan cerpen). Puisi YW berjudul "Rutinitas" memberi kesan bahwa YW  tidak terlepas dari puisi. Hidup YW adalah puisi. Ia ada di dalam sesuatu yang rutin. Hemat saya, YW mempuisikan dirinya itu, di dalam, dari, dan untuk rutinitas. Sehingga, pantaslah kalau "Rutinitas" sungguh menjadi satu judul puisi yang mewakili keseluruhan puisi-puisinya, yakni "Rutinitas" yang transendental atau "Rutinitas" yang menonjolkan hal-hal yang bersifat kerohanian, pergumulan batin YW dengan Tuhannya.

Rutinitas yang Transendental
                YW pernah menulis beberapa puisi lain yang tidak kalah menarik. Membaca puisi-puisinya, kita sebetulnya terbawa dalam apa yang disebut sebagai "Rutinitas". Beberapa dari judul puisi yang pernah ditulisnya seperti, Kopi Lima Waktu, Kopi Pahit, Secangkir Malam pada Suatu Kopi, Persamaan Kopi ini dan Malam ini,  Sejak Kapan Buat Sajak? Kalau kita mencicipi puisi-puisi YW ini, itu berarti kita sedang mencicipi rutinitas khas Biara. Rutinitas yang menonjolkan nilai-nilai kerohanian, pergumulan batin YW dalam seluruh rutinitasnya. Misalnya, penggalan puisi dengan judul "Rutinitas" tersebut di atas, /Sejak dua minggu lalu/setiap malam/sesudah dengar radio/aku bunuh diri/pakai sajak yang kau tulis/dengan tangan kirimu/. Bait pertama puisi ini sangat sederhana. Pemilihan kata demi kata yang menghasilkan kalimat yang mengalir. Kata sejak, justru menentukan waktu yang sudah lama sekali. Ketika YW melanjutkan dengan dua minggu lalu, maka kata sejak itu menghubungkan antara minggu pertama dan minggu kedua, tepatnya pada setiap malam, sesudah (selesai) dengar radio, aku atau (YW) bunuh diri, pakai sajak yang kau tulis, dengan tangan kirimu. Sebuah pertanyaan bisa diajukan di sini. Mengapa YW bunuh diri? Pakai sajak yang "kau" tulis? Mengapa harus "kau"? Kenapa YW bunuh diri pakai sajak dan tidak menggunakan senjata, misalnya pisau, baigon, atau lainnya? Siapakah "kau" yang dimaksud YW?
Sebetulnya YW dalam pergumulannya sampai pada satu titik jeda, pada malam hari. Malam yang sejatinya sunyi dan hening itu membawa YW masuk ke dalam dirinya. YW melihat kembali sesuatu yang rutin dialami sehari-hari, mulai dari bangun pagi, mandi, berkemas menuju kapela, ibadat, meditasi, merayakan Ekaristi, sarapan pagi, berangkat ke kampus (kuliah), makan siang, tidur siang dan bangun lagi, belajar, kerja, ibadat sore, makan malam, rekreasi, dan tidur malam. Rutinitas yang konkret disadari sebagai puisi. Aku bunuh diri memberi arti YW menggali lagi hal-hal yang mati setelah sehari penuh sibuk dengan rutinitas yang padat. YW membunuh diri pakai sajak yang "kau" tulis. Mengapa harus "kau"?
Dalam penggalan puisinya, YW sengaja menulis kau dengan huruf kecil. Sebenarnya kau yang dimaksud ialah Kau (Tuhan). Tuhan di sini, dalam pemahaman YW adalah Tuhan yang ditentangnya. Tuhan yang membuat YW bunuh diri, merasa jenuh dengan sesuatu yang rutin, yang disebut YW sebagai sajak tulisan tangan kirinya. YW tidak berhenti pada titik itu, tetapi menyadari secara penuh sambil berdiri dan mengatakan; /supaya setiap pagi/sebelum lonceng berbunyi/aku dapat bangkit lagi/mengasah tajam-tajam/sajakmu/yang itu-itu lagi/. Adanya proses kelahiran kembali. YW bangkit lagi dari kekalahannya untuk menjalankan secara lebih baik rutinitas yang itu-itu saja. YW merindukan tajamnya sajak, atau rindu menjalankan aktivitas harian dengan sadar dan penuh tanggung jawab, sesuatu yang rutin yang menurut YW adalah hadiah dari Kau (Tuhan). Namun, YW sebenarnya kembali mengurung semangatnya dengan mengatakan pada akhir puisinya, yang itu-itu lagi. Mengapa demikian?

Kembali ke dalam Diri

Di Facebook, saya sempat mengomentari puisi ini. Kemudian, Saudara Gusti Horowura, SVD secara tajam mengomentari juga puisi YW. Menurutnya, ada banyak hal yang menarik. Kalau memang yang itu-itu lagi, berarti tidak ada kemajuan. Seorang filosof yang juga penyair semestinya adalah dia yang mampu merefleksikan hidupnya jauh melampaui yang bukan penyair. Saya juga setuju dan turut menyambung bahwa, yang itu-itu lagi berarti rutinitas yang sama atau rutinitas yang itu-itu saja, perlu diasa dengan kata 'harus'. Maka, saya atau YW dan kita mau tidak mau harus menikmati apa itu aturan atau lainnya. Yang terpenting, bagaimana kreativitas kita mengubah yang itu-itu saja menjadi sesuatu yang bukan itu-itu saja. Paling tidak ada yang lain, ada sesuatu yang berubah. Dengan demikian, YW dan kita harus kembali ke dalam diri. Kembali lagi mengasa tajam-tajam sajaknya (rutinitas) sebagai pengalaman dan hadiah dari Dia Yang Tak Terbatas.
Puisi berjudul "Rutinitas" ini juga sangat mencerminkan Transendensi (nama yang paling umum dipakai Karl Jaspers filsuf besar abad 20). Dalam sebuah perkuliahan, Pater Leo Kleden, SVD mengatakan bahwa, Jaspers menggunakan kata Transendensi untuk mengungkapkan Yang Maha Tak Terbatas, yang tak terjangkau oleh pikiran manusia biarpun manusia selalu mencoba menyebut Dia dengan bermacam-macam nama seperti, Yang Abadi, Asal, dan lainnya. Maka, YW menggunakan kata "kau" (Tuhan) yang selalu mengisi seluruh rutinitas di biara, sehingga YW menjadi benar-benar berada di dalam rutinitas, berasal dari rutinitas, dan untuk rutinitas. Dalam pergumulannya, YW terus berbincang atau bercerita tentang dirinya dan Transendensi sebagaimana yang sering dipakai Jaspers. Hal yang sangat penting ialah bukan hanya YW yang harus masuk ke dalam dirinya, tetapi kita, calon imam, para imam, bruder, suster, dan kita sebagai masyarakat peziarah perlu kembali ke dalam diri.  Kita masuk dan menggumuli pengalaman batin bersama Dia Yang Tak Terbatas.
Di sini, hal baru yang diberikan YW adalah puisi yang lahir dari rutinitas. Hal yang jarang disentil oleh penyair-penyair. YW justru sedang menulis tentang sesuatu yang rutin, yang mewakili seluruh kepuisiannya. Hal yang penting, yakni YW tidak terlepas dari kehidupannya sebagai calon imam yang tentu menggumuli banyak hal berhubungan dengan kerohanian. Selanjutnya, dalam sebuah puisinya yang berjudul, Kopi Lima Waktu (2013) berbunyi, Aku heran, karena/Mereka bilang/Mereka heran, ketika/Aku bilang/Aku minum kopi lima waktu/. Kopi Lima Waktu, merujuk pada aspek-aspek dalam Serikat Sabda Allah, yakni kepribadian, akademik, kerohanian, solidaritas, dan kaul-kaul yang dihayati, kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan. Kopi dengan rasa manis bisa juga pahit karena tanpa gula, memberi rasa suka dan duka, manis dan pahit. Adanya variasi suka maupun duka dalam menghayati aspek-aspek kebiaraan dalam Serikat Sabda Allah.
Beberapa aspek ini masuk dalam satu ruang yang disebut sebagai "Rutinitas". Hal yang rutin, yang tidak dilihat sebagai (hanya) main-main, melainkan harus diolah untuk diberi bobot bagi hidup seseorang. Dan YW justru telah menunjukkan kepada kita bagaimana memulai puisi yang lahir dari rutinitas. Rutinitas memang yang itu-itu saja, tetapi bagaimana kita meraciknya menjadi yang bukan itu-itu saja. Dengan demikian, awal kepenyairan YW ini merupakan awal mempuisikan dirinya dalam, dari, dan untuk sesuatu yang rutin. Sesuatu yang akan terus dipertentangkan YW dengan kau, Tuhan-nya YW dan Tuhannya kita juga. Mengutip Joko Pinurbo, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi. Proficiat untuk Yohan Wutun!*






               

September dan Kitab Suci

Agustus sudah pergi. September datang seperti sedang berlari. Angin kencang tak digubrisnya. Dingin kota Ende tak berarti di dalam tubuhnya....