Senin, 03 November 2014

Dari Peristiwa ke Imajinasi



Dari Peristiwa ke Imajinasi
(Apresiasi atas Cerpen Hujan di Biara karya Hans Hayon)
Oleh Eto Kwuta
Sebuah cerpen kadang ditafsirkan memiliki bobot tertentu, mengandung pesan-pesan yang setidaknya mengintensifkan cara pandang pembaca terhadap kenyataan. Seperti halnya novel, cerpen terbagi dalam dua garis besar, yaitu cerpen fiktif dan faktual. Cerpen fiktif harus benar-benar fiksi, khayalan, bahkan impian. Cerpen semacam ini paling sering dijumpai di tabloid atau majalah hiburan. Sedangkan cerpen faktual berangkat dari kejadian nyata atau realitas sosial. Cerpen faktual memang juga fiksi, tetapi tidak sepenuhnya fiksi karena masih berpijak bahkan mengais-ngais kenyataan. Cerpen faktual biasanya hadir dalam surat kabar (surat kabar yang sudah terpercaya, seperti Pos Kupang dan Flores Pos).
Menjadi soal, ketika cerpen dilihat sebagai bentuk bacaan hiburan (muncul setiap hari Minggu). Dan Pos Kupang, Minggu, 2 Maret 2014 menurunkan sebuah cerpen dengan judul Hujan di Biara (Surat Untuk Tuhannya Grace) karya Hans Hayon. Cerpen yang sangat menarik. Setelah membaca cerpen ini, saya bangga dengan kecerdasan Hans membaca peristiwa dan mengemasnya dalam imajinasi yang memukau. Sebuah pertanyaan, apakah cerpen ini hanyalah sebuah hiburan saja?
Bertolak dari pertanyaan  tersebut, saya mengajak kita melihat lebih jauh serentak memaknai nilai apa saja dalam cerpennya tersebut. Sehingga, cerpen bukan sekedar hiburan, tetapi mengantar pembaca kepada satu interpretasi dan juga apresiasi.
Hans mencipta cerpennya dalam alur atau plot yang unik. Pertama, Bagian awal. Cerpen ini mempunyai dua bagian, yaitu eksposisi dan instabilitas (ketidakstabilan). Eksposisi menjelaskan atau memberitahukan informasi yang diperlukan untuk memahami cerita. Dalam hal ini, eksposisi yang ditampilkan berupa penjelasan tentang sisi Grace di tahun 2000. Menarik sekali karena Hans membiarkan Grace (tokoh aku) berbicara terbuka dan penuh keyakinan. Seolah-olah Hans adalah Grace. Artinya, Hans menyelami perasaan perempuan, bahkan pelan-pelan menjadi perempuan yang menulis, MUNGKIN akulah wanita pertama yang berani menangis karena sebuah biara. Kegeramanku memuncak saat panggilanku makin sekarat hanya karena lilitan aturan hidup yang baku. Kaku. Aturan yang membuatku terpaksa beranjak pergi,...dst. Hemat saya, eksposisi tersebut mengantar pembaca seolah-olah menjadi Grace. Kita (baca: pembaca) adalah juga aku-nya Grace yang bebas serentak nyata.  Begitu juga dengan instabilitas (ketidakstabilan), yang mana terdapat keterbukaan. Yang dimaksud di sini adalah cerita mulai bergerak dan terbuka dengan segala persoalannya. Hans menulis: Sesudah menemukan kebuntuan atas pertanyaan-pertanyaan eksistensial tersebut, aku putuskan untuk mengakhiri ziarah panggilanku sebagai seorang biarawati. Hal yang lumrah bukan, jika seorang wanita sepertiku melakukan hal demikian dalam situasi terjepit? Tampak jelas bahwa yang dimaksud cerita mulai bergerak dan tebuka adalah karena informasi ini belum tuntas serentak menimbulkan pertanyaan, mengapa Grace memutuskan untuk mengakhiri panggilannya? Maka, dari ketidakstabilan ini muncul pengembangan cerita ke tahun 1999.
Kedua, bagian tengah (tahun 1999). Ketidakstabilan di atas menimbulkan suatu pengembangan cerita, tetapi tidak dimulai dari ketidakstabilan itu. Hans justru memulai dengan jawaban atas pertanyaan yang muncul, seperti yang disebutkan di atas. Jawaban itu sedikitnya menggambarkan konflik, bahwa Grace berhenti dari panggilannya karena jatuh cinta. Seperti apa Grace jatuh cinta? Hans menguraikan; Gerbang neraka seakan melebar pada cinta jenis ini. Cinta yang diharamkan oleh agama, masyarakat, tradisi, dan mungkin Tuhan juga. Apakah itu cinta sesungguhnya? Atau cinta yang diharamkan? Hal yang sangat menarik ialah Hans menguraikan posisi Grace yang sadar, hidup, dan kritis itu saat berhadapan dengan persoalan cinta juga sahabat karibnya, Ratih.
Ketiga, Bagian terakhir. Hans memberi kejutan (surprise) yang terletak pada kalimat: "Maafkan aku, suamiku. Aku hanya sanggup menatapmu dari tempat ini tanpa berbuat banyak untuk menolongmu,". Saya justru tidak menemukan Hans menguraikan bagaimana kematian Grace, tetapi saat membaca kalimat ini, saya akhirnya paham kalau peristiwa kematian itu sudah diuraikan pada bagian tengah cerpen, yaitu tampak dalam kalimat; Ketika pagi belum terlalu dewasa, betapa kagetnya Ratih saat menemukan Grace tak ada..dst. Luar biasa, Hans mengedepankan sisi "Grace" yang masih mencintai suaminya walaupun ia sendiri mati karena suaminya, Lukas Sabtu. Dalam ceritanya, kita dihadapkan akan pertanyaan-pertanyaan reflektif tentang cinta dan pilihan. Grace adalah sebuah keberanian dalam mencintai. Setelah membaca kisah ini, bertanyalah kepada diri Anda sendiri: "Apakah cinta yang membahagiakanmu?"
Dengan begitu, cerpen Hans sungguh berangkat dari peristiwa ke imajinasi. Hans membaca peristiwa yang pernah terjadi dan meraciknya kepada imajinasi. Imajinasi memang sifatnya begitu individualistik. Namun, kekuatan imajinasi membebaskan satu karya dari keterikatan penulis dengan suatu peristiwa. Hans telah menunjukkannya bagi kita. Profisiat untuk Hans Hayon!*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar